For Indonesia
Ditulis oleh M. Arpan Rachman    Selasa, 24 Pebruari 2009 18:01    PDF Cetak Email
Rubuh yang Pening

Tham/Kin, sampai hari ini aku enggan mencatat
mengapa Kopi Roda rubuh di tepi jalan itu
dalam syaraf kecil pahamku. Tapi jika tak
bersajak, berarti aku berkhianat dengan ingatan.

"Orangtuaku lari tidak sempat berkemas
saat kupaksa gadis bukan siapaku
masuk toko tanpa permisi, lalu minta ladeni."

Mereka berdua ketakutan, Tham
mengira anaknya ini makan tangan adat
kukira gadis itu suka.

Aku seludang menolak mayang
sinting sendiri.

Di langit dini larut menggigilkan, aku tersedak
lagi dan cegukan. Elang angkuh itu - kulihat
lewat mata rabun - gagal menyambar subuh yang
bening, Narcisus telah patah kepak di sana.

(apa ada elang yang terbang subuh?)

Tak mau aku mencelat lurus menoleh ke kanan
setelah belok kiri. Belum ingin keluar dari
lubang buntu bau busukmu yang telanjur
kugilai. Kapan aku boleh ketemu Chavez, Kin?

Batukarang, 22 Februari 2009

M. Arpan Rachman, kontributor Mediabersama.com

Jumlah Komentar (0)Add Comment
Tulis Komentar
 
  Perkecil | Perbesar
 

busy