|
||||
| Gramedia, Buku dan “Gitu Deh…” |
Braga di Suatu Senja…Selama bisa mendapatkan buku di toko kecil, saya tak akan membeli buku di Gramedia. Prinsip ini saya pegang sejak lama. Buat saya ini penting untuk membangun sikap, minimal sikap pengertian kepada pedagang buku pinggiran. Logikanya, sama-sama keluar uang akan lebih baik jika uang saya itu menguntungkan pedagang buku kecil. Alasan kedua, Gramedia sangat jarang memberi diskon, beda dengan toko buku lain. Pihak toko buku Gramedia boleh tidak suka dengan cara berpikir saya. Tetapi, itulah logika yang saya miliki. Gramedia sudah kaya raya, menjadi raksasa buku di Indonesia. Sekalipun saya tidak anti kekayaan, tetapi saya lebih suka memihak pada mereka yang lemah. Selain itu terkadang motivasi saya menolak membeli buku atau majalah di Gramedia juga karena seringkali mau untung sendiri. Mentang-mentang menguasai pasar, buku terbitan penerbit non-Gramedia Grup dianggap buku kelas dua, mudah tersingkir oleh kebijakan pemilik toko. Bagi saya sikap Gramedia itu wajar dan bukan sesuatu yang aneh. Itu took milik Gramedia, bukan milik asosiasi penerbit atau distributor buku. Tak perlu sinis. Sama seperti sikap saya yang memang milik saya sendiri. Semoga sikap saya juga tak mengundang sikap sinis pihak Gramedia, termasuk ketika saya mengampanyekan jangan beli buku di Gramedia selama bisa membeli buku di toko lain. Enak toh? Kalau kapitalisme pada dasarnya berwatak serakah, maka keserakahan itu juga tidak berdiri sendiri. Ia tegak karena tiga alasan utama, yakni kemampuan, keberanian dan ketiadaan perlawanan. Gramedia mampu dan berani karena memang pilar bisnisnya kokoh. Tak mudah dilawan oleh penerbit dan distributor lain. Kalau kita berniat menggoyang kekokohan Gramedia, salahsatu cara kreatifnya adalah setiap orang harus memiliki sikap (mungkin)seperti saya. Ini rahasia ya. Jangan sampai orang Gramedia tahu. Kalau mereka tahu, nanti mereka bisa membuat toko-toko kecil supaya dianggap miskin lalu orang-orang berbondong-bondong membeli buku di loak-loak Gramedia. Barusan saya ngomong apa ya? Lupa! Apa yang saya tulis di atas itu adalah renungan saya saat berada di pameran buku Bandung 2009, kemarin sore (7 Januari 2009). Berjalan-jalan dari stan ke stan tiba-tiba pikiran saya melayang. "Ada apa dengan dunia penerbitan kita? Kenapa semakin nampak sepi? Kenapa yang laris saat ini buku-buku fiksi? Mendadak saya rindu dengan masa sepuluh tahun silam; masa di mana buku-buku kajian pemikiran kritis sangat menonjol dibanding fiksi. Teringat pula beberapa keluhan penerbit fiksi Islam tiga tahun silam. Para penulis dan penerbit mengeluhkan minimnya sastra Islam. Tiga tahun silam sastra/fiksi Islam dirindukan karena banyaknya karya sastra berbau sex dan sastra wangi. Karya-karya sastra (yang menurut istilah saya) bisa disebut karya sastra “mazhab jembut” itu ternyata sekarang terpekur tak berdaya diganti sastra Islam, walaupun isinya juga tak benar-benar Islami atau malahan sebagian juga mengandung kadar “jembutisme” pula. Sampai kapan sastra atawa fiksi Islam itu bertahan memenuhi selera pasar? Entahlah. Dugaan saya tak sampai tahun 2010 untuk kemudian beralih ke tren buku jenis lain. Fenomena lain yang perlu saya sampaikan di sini ialah sampul buku. Kalau era lima tahun silam sampul buku bagus hanya dimiliki oleh penerbit besar, saat ini hamper setiap buku covernya menarik, bagus-bagus semua. Rupanya kultur pesolek yang semakin kuat menyusup di setiap lini kehidupan, buku pun harus tampil keren. Sebaik apapun isinya kalau sampulnya jelek,konon,kata para pemilik penerbitan buku, biasanya akan gagal meraih minat pembeli. Bagaimana editing? Kontrol kualitas terjemahan dan kualitas karya? Menurut seorang teman pemilik penerbitan buku, "urusan ini tak kunjung maju." Katanya pula, "sekalipun teknologi komputer banyak memberikan kemudahan control kualitas naskah, tetapi tidak dengan sendirinya menjamin kualitas naskah. Banyak salah ketik. Ini satu contoh," katanya. Mengenai kualitas karya dia mengatakan, "ya, namanya kejar terbit dan kejar duit. Biasalah…," ujarnya tanpa memberi penjelasan. Mungkin dia menganggap saya sudah paham. Dugaan saya, paling-paling dia mau bilang, jualan di jaman sekarang tak perlu mikirin kualitas. Yang penting kemasan. Orang-orang kita ini mudah dibodohi oleh kaleng. Kemudian saya teringat seorang teman penulis, "kalau mau menulis buku jangan yang serius dan terlalu berat. Orang Indonesia itu mau baca saja sudah untung. Kalau diajak berpikir berat malah stres……" Weleh. Ya, saya percaya itu. Banyak penulis serius, cerdas dan karyanya bagus tetapi melarat karena bukunya tak laku. Dengan kata lain kalah dengan penulis-penulis “renyah” (saya tak menganggap picisan lho…). Memang buku yang laris itu tak selalu murahan isinya. Ada banyak buku laris yang ilmiah. Tetapi, saya lihat karena ditulis dengan bahasa sederhana, logika simple dan trendy…. Pokoknya yang….gitu deh….kata "anak baru gede" (ABG). Ya, pokoknya gitu deh. Itulah rasa, mungkin juga terkait dengan selera. Saya pernah dengar ada penulis bilang, soal apapun boleh diperdebatkan, tetapi urusan selera tak bisa. Jadi kesimpulannya mengapa sebuah buku bisa laris atau tidak, mungkin karena faktor "gitu deh”. Sesungguhnya saya tidak terlalu suka dengan sikap fatalis para penerbit. Belum juga melakukan survei sudah masuk jurang misteri. Fakta menunjukkan, promosi di luar penerbit, yakni dari mulut ke mulut antarpembaca yang mempengaruhi teman-temannya sangat ampuh. Kemudian kalau cetakan buku pertama sudah laris, penerbit berani mengalokasikan dana untuk promosi khusus. Bagaimana dengan resensi, bukankah itu promosi juga? Resensi juga memberikan pengaruh, walaupun tidak menentukan. Sebanyak apapun resensi yang dimuat di media cetak dan online tanpa disertai promosi khusus dari penerbit niscaya tidak banyak membantu meningkatkan oplah penjualan. Intinya, laris atau tidaknya sebuah buku sebenarnya bergantung pada kecerdasan dan kemauan penerbit bermain di wilayah promosi. Kembali ke Braga. Pameran buku, sebenarnya jualan buku. Saya tak melihat ajang pameran itu sebagai cara mengiklankan diri para penerbit di depan khalayak dengan kebanggaan produk-produknya yang khas. Pameran sebagai sarana promosi memang tetap berlangsung. Logika yang dipakai para penerbit atau distributor di stan itu sederhana; "kita pameran dibiayai oleh keuntungan jualan buku. Kalau buku tak laku maka rugilah penerbit." Walah, masih juga begitu!. Faiz Manshur, kontributor Mediabersama.com
Jadikan Favorit
Bookmark
Sebarkan Tulisan ini
Dibaca Sebanyak: 1245 Jumlah Komentar (2)
![]()
...
teruskan aja kampanyenya bos.. saya tunggu, sampai berapa lama orang seperti kamu bisa mengumpulkan orang-orang yang isi otaknya sepicik kamu untuk bisa mengalahkan gramedia. hehehehe gramedia gak akan jatuh miskin dengan kampanyemu. masyarakat saya yakin jauh lebih punya otak dan logika ketimbang kamu bos! gak mungkin lah para ceo pejabat dan lain-lain harus blusukan dan panas-panas datengin emperan toko kecil, bukunya yang dijual juga jangan ditanya kualitasnya. dan hati-hati juga dengan pasal pencemaran nama baik dengan kampanyemu itu, sebab jelas-jelas kamu sudah menghasut setidaknya merek dagang dan/atau badan hukum lho.. ati-ati kangmas dalam berbicara hehehe |




Braga di Suatu Senja…























