Premium-solar Tak Naik Ini Dampakx bagi Pertamina

Keputusan pemerintah tak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan solar, berpotensi menurunkan pendapatan PT Pertamina.

Apalagi, harga minyak dunia saat ini sudah menembus US$ 60 per barel, jauh di bawah harga pada asumsi anggaran 2018 yang hanya sebesar US$ 48 per barel.

Unit Manager Communication & CSR MOR VII, M Roby Hervindo enuturkan, akumulasi pusat terkait potensi kehilangan pendapatan Pertamina pada 2018 bisa sampai Rp 24 triliun.

Agar Pertamina tak kehilangan potensi pendapatan itu, harga premium dan solar harusnya naik untuk periode April-Juni 2018.

“Data pusat, untuk solar dan premium penugasan luar Jamali (Jawa, Sumatra, dan Bali) selama Januari-Februari potensi kehilangan pendapatannya sudah Rp 3,49 triliun. Tambah premium untuk Jamali Rp 3,9 triliun,” katanya via telepon, Selasa (20/3/2018).

Apalagi, konsumsi untuk BBM jenis penugasan seperti premium dan solar berpotensi naik selama libur Lebaran yang jatuh pada Juni 2018.

“Jika dihitung dengan formula harga yang ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Presiden No.191/2014 tentang Penyedian, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran BBM, maka harga premium seharusnya sudah mencapai Rp 8.600 per liter untuk April–Juni 2018,” kata M Roby Hervindo

Sedangkan premium saat ini masih dijual Rp 6.450 per liter.

“Ini berarti telah ada selisih harga sebesar Rp 2.150 per liter,” ujar Roby.

Untuk BBM jenis solar, dengan formula harga harusnya harga solar saat ini sebesar Rp 8.350 per liter.

Saat ini solar masih dijual di harga Rp 5.150 per liter.

Ini berarti ada selisih harga Rp 3.200 per liter.

“Tapi karena ini adalah amanah pemerintah, ya Pertamina kerjakan. Kami tetap sediakan BBM penugasan maupun BBM subsidi di SPBU,” tutur Roby.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *